Al Hindawi (Pakai Peci Putih) berpose bersama dengan keluarganya aat diwisuda di Ponpes Al Imam Ashim Makasaar beberapa waktu lalu.SUKASULSEL.COM, MAKASSAR--Prestasi membanggakan kembali ditorehkan generasi muda Sulawesi Selatan.
Muhammad Al Hindawi, santri kelas XII Pondok Pesantren Al Imam Ashim, Makassar, berhasil menemukan dan melaporkan celah keamanan (security vulnerability) pada sistem milik NASA dan University of Melbourne, Australia.
Yang membuat pencapaian ini semakin menarik, kemampuan tersebut diperoleh Al Hindawi melalui proses belajar secara otodidak. Ia baru sekitar empat hingga lima bulan mendalami dunia cybersecurity, namun telah mampu menemukan kerentanan yang kemudian dilaporkannya melalui jalur resmi.
Al Hindawi diketahui merupakan cucu ulama karismatik asal Kabupaten Bone, AG KH. Huzaifah. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi keluarga sekaligus menjadi inspirasi bagi kalangan santri bahwa dunia pesantren juga dapat melahirkan generasi yang memiliki kemampuan di bidang teknologi.
Temuan tersebut dilaporkan melalui program resmi Vulnerability Disclosure Program (VDP) pada platform Bugcrowd. Laporan yang disampaikan Al Hindawi kemudian mendapatkan validasi dari tim keamanan siber masing-masing institusi.
Dalam proses pencariannya, Al Hindawi menggunakan sejumlah perangkat dan metode dalam melakukan pemetaan sistem. Ia menjelaskan bahwa proses tersebut diawali dengan melakukan reconnaissance untuk memetakan target dan mencari potensi kerentanan.
“Saat melakukan pemetaan (recon), awal mulanya saya menggunakan Subfinder untuk mengumpulkan subdomain, lalu mengecek status response code-nya menggunakan httpx. Dari sana, baru saya cari sistem yang rentan terkena SQL Injection,” ujar Al Hindawi, sebagaimana diberitakan sejumlah media.
Dari proses tersebut, Al Hindawi disebut berhasil menemukan dua celah keamanan pada sistem NASA dan satu celah keamanan pada University of Melbourne.
Temuan itu selanjutnya dilaporkan kepada pihak terkait melalui mekanisme pengungkapan kerentanan yang resmi.
Atas kontribusinya dalam membantu meningkatkan keamanan sistem, Al Hindawi menerima Letter of Recognition (LOR) dari NASA. Ia juga memperoleh konfirmasi validasi dari tim Cyber Operations University of Melbourne.
Belajar dari YouTube
Ketertarikan Al Hindawi terhadap dunia cybersecurity tumbuh dari rasa ingin tahu dan keinginannya untuk mempelajari teknologi. Ia mengaku banyak belajar secara mandiri melalui berbagai tutorial di YouTube.
Selain itu, ia juga mempelajari laporan-laporan penelitian keamanan siber yang dipublikasikan oleh para peneliti lain melalui platform Bugcrowd. Dari sana, pengetahuannya terus berkembang dan ia mulai mempraktikkan apa yang dipelajarinya.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap pengetahuan dan kemauan untuk terus belajar dapat menjadi modal penting bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan di bidang teknologi.
Selalu Minta Fasilitas Wi-Fi Saat Pulang ke Bone
Sang ayah, H. Salman, mengungkapkan bahwa ketertarikan Al Hindawi terhadap dunia teknologi memang sudah terlihat. Setiap kali pulang ke kampung halaman di Bone saat masa liburan, Al Hindawi selalu meminta agar tersedia jaringan Wi-Fi untuk menunjang aktivitas belajarnya.
“Kalau pulang ke Bone saat liburan, ia selalu minta supaya difasilitasi Wi-Fi. Dan ada satu cita-citanya yang selalu disampaikan, ia ingin sekali kuliah di luar negeri,” ungkap H. Salman.
H. Salman sendiri diketahui merupakan salah satu pembina Pondok Pesantren Al-Junaidiyah Biru, Watampone.
Kini, pencapaian Al Hindawi menjadi cerita tersendiri bagi keluarga dan lingkungan pesantren. Di tengah aktivitasnya sebagai santri, ia mampu mengembangkan ketertarikan pada bidang teknologi hingga berkontribusi dalam pelaporan kerentanan keamanan kepada institusi internasional.
Kisah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa santri tidak hanya dapat berprestasi dalam bidang keagamaan, tetapi juga memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan kemampuan di bidang sains, teknologi, dan keamanan siber.(*)
