SUKASULSEL.COM,BONE — Cerita tentang kebudayaan Bone tidak hanya tersimpan dalam kesenian dan tradisi, tetapi juga dalam hubungan masyarakat dengan tanah, air, pertanian, dan kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang diperkenalkan kepada siswa SMP Negeri 1 Watampone melalui kegiatan diseminasi dan pemutaran film kebudayaan, termasuk film dokumenter “Bendungan Palakka: Nafas Petani Bone”, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 tersebut menjadi ruang bagi para siswa untuk melihat keterkaitan antara Bendungan Palakka, kehidupan petani, hasil pertanian, hingga berbagai tradisi masyarakat Bone yang masih dilakukan hingga saat ini.
Film “Bendungan Palakka: Nafas Petani Bone” mengajak siswa melihat bagaimana keberadaan air memiliki peran penting dalam kehidupan pertanian. Bendungan menjadi bagian dari perjalanan petani dalam mengolah lahan, menanam, merawat tanaman hingga menghasilkan panen yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Namun, cerita pertanian di Bone tidak berhenti ketika hasil panen diperoleh. Di balik proses pertanian terdapat pengetahuan dan kebiasaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagian di antaranya kemudian berkembang menjadi tradisi yang dilakukan dalam berbagai tahapan kehidupan masyarakat, baik sebelum maupun setelah masa pertanian dan panen.
Salah satu tradisi yang diperkenalkan adalah Mappadekko, tradisi masyarakat Bugis yang menggunakan alu dan lesung sebagai bagian dari aktivitas menumbuk padi. Dalam perkembangannya, Mappadekko menjadi sebuah pertunjukan tradisi yang sarat dengan nilai kebersamaan dan budaya.
Selain Mappadekko, siswa juga diperkenalkan dengan Mappere, tradisi yang dikenal dalam masyarakat Bugis dan menjadi bagian dari kekayaan tradisi masyarakat Bone.
Berbagai tradisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pertanian pada masa lalu tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan bahan pangan, tetapi juga melahirkan ruang kebersamaan, ekspresi budaya, dan hubungan sosial di tengah masyarakat.
Dengan demikian, pertanian tidak hanya dapat dilihat dari hasil panennya. Di dalamnya terdapat pengetahuan lokal, kebiasaan, gotong royong, kesenian, permainan tradisional, serta berbagai bentuk tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Wakasek SMP Negeri 1 Watampone, Andi Miswar, S.Pd., menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pengenalan budaya kepada siswa penting dilakukan agar mereka mengetahui bahwa kebudayaan daerah memiliki hubungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena siswa mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda. Mereka tidak hanya melihat budaya sebagai sebuah pertunjukan, tetapi juga memahami bagaimana budaya itu tumbuh dari kehidupan masyarakat, termasuk dari pertanian dan lingkungan di sekitarnya.”
Selain itu, pihak sekolah berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan pada kesempatan mendatang dengan konsep dan rangkaian acara yang lebih besar, lebih menarik, serta melibatkan lebih banyak siswa.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus menjadi wadah pembelajaran dan apresiasi budaya bagi para siswa,” lanjutnya.
Sementara itu, Panitia Pelaksana Muhammad Sulham menjelaskan bahwa pemilihan film “Bendungan Palakka: Nafas Petani Bone” sebagai salah satu materi diseminasi bukan tanpa alasan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kebudayaan itu saling berkaitan. Ketika kita berbicara tentang Bendungan Palakka, kita berbicara tentang air. Air mendukung pertanian, pertanian menghasilkan pangan, dan dari kehidupan pertanian itu kemudian muncul berbagai kebiasaan serta tradisi masyarakat.”
Ia menambahkan, berbagai tradisi seperti Mappadekko dan Mappere serta tradisi lainnya merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.
“Mappadekko, Mappere, dan tradisi lainnya bukan hanya sesuatu yang ditampilkan ketika ada acara. Di baliknya ada cerita tentang kehidupan masyarakat, kebersamaan, pertanian, dan nilai-nilai yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu. Anak-anak perlu mengetahui cerita di balik tradisi tersebut,” katanya.
Menurut panitia, pengenalan seperti ini penting karena generasi muda akan menjadi bagian dari keberlanjutan kebudayaan.
“Mereka nantinya yang akan menjadi agen pemajuan kebudayaan. Harapannya bukan hanya mengetahui nama tradisinya, tetapi memahami maknanya, menghargainya, kemudian ikut melestarikan, mengembangkan, dan memperkaya kebudayaan tersebut sesuai dengan zamannya,” lanjutnya.
Kegiatan diseminasi dan pemutaran film ini juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk memahami bahwa budaya tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Banyak kebudayaan justru tumbuh dari aktivitas sederhana yang dilakukan masyarakat secara terus-menerus.
Melalui pemutaran film “Bendungan Palakka: Nafas Petani Bone” dan film-film kebudayaan lainnya, siswa diajak melihat Bone bukan hanya sebagai sebuah wilayah, tetapi sebagai ruang yang menyimpan banyak cerita tentang manusia, alam, pertanian, dan tradisi.
Kegiatan yang didukung melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk mendekatkan kebudayaan kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah. (*)
