HIJRAH




Catatan ceramah Shubuh Prof. Dr. H. Lukman Arake, Lc., M.A.

Oleh: Hj. Farida Hanafing 

SUKASULSEL.COM, BONE--Tahun Baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam, tetapi momentum untuk melakukan evaluasi diri dan memperbarui komitmen keimanan kepada Allah SWT. Penanggalan Hijriah yang digunakan umat Islam saat ini memiliki sejarah yang sangat erat dengan peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah.

Sebelum Islam memiliki kalender sendiri, masyarakat Arab menggunakan berbagai sistem penanggalan. Sebagian menggunakan perhitungan berdasarkan fenomena alam, terutama peredaran bulan. Para pelaut bahkan menjadikan posisi bulan dan bintang sebagai penunjuk arah dalam perjalanan mereka di lautan. Sebagian lainnya menggunakan penanggalan Persia atau Romawi, dua peradaban besar yang telah berkembang jauh sebelum masa Rasulullah ﷺ.

Karena belum memiliki sistem penanggalan yang baku, masyarakat Arab sering menandai suatu tahun dengan peristiwa besar yang terjadi pada masa itu. Oleh karena itu, kelahiran Nabi Muhammad ﷺ dikenal terjadi pada Tahun Gajah, yaitu tahun ketika Abraha datang menyerang Ka'bah dengan pasukan bergajah.

Lahirnya Kalender Hijriah

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, kepemimpinan umat Islam dilanjutkan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه. Pada masa beliau, umat Islam masih menggunakan sistem penanggalan yang telah berlaku sebelumnya.

Ketika pemerintahan beralih kepada Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه, muncul kebutuhan untuk memiliki sistem penanggalan resmi umat Islam. Umar kemudian mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah.

Berbagai usulan muncul:

Memulai kalender dari tahun kelahiran Nabi ﷺ.

Memulai kalender dari tahun diangkatnya Nabi menjadi Rasul.

Mengikuti kalender Persia atau Romawi.

Namun akhirnya disepakati bahwa awal kalender Islam dimulai dari peristiwa Hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah, karena peristiwa tersebut merupakan titik balik kebangkitan Islam dan pembentukan masyarakat Islam yang kuat.

Sejak itulah lahir Kalender Hijriah yang digunakan umat Islam hingga hari ini.

Makna Hijrah dalam Islam

Ketika berbicara tentang hijrah, terdapat dua hadis Nabi ﷺ yang sekilas tampak bertentangan.

Hadis Pertama

لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ

Artinya :

"Tidak ada lagi hijrah setelah penaklukan Makkah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat yang baik."

( HR. Al-Bukhari dan Muslim )

Hadis Kedua

لَا تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ، وَلَا تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Artinya :

"Hijrah tidak akan terputus hingga taubat terputus, dan taubat tidak akan terputus hingga matahari terbit dari arah barat."

(HR. Abu Dawud)

Penjelasan Ulama

Para ulama menjelaskan bahwa:

Hadis pertama berbicara tentang hijrah fisik, yaitu perpindahan dari Makkah ke Madinah yang kewajibannya berakhir setelah Fathu Makkah (penaklukan Makkah).

Hadis kedua berbicara tentang hijrah maknawi atau batiniah, yaitu berpindah dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari keburukan menuju kebaikan. Hijrah jenis ini akan terus berlangsung hingga Hari Kiamat.

Kecintaan Rasulullah ﷺ kepada Makkah

Meskipun Rasulullah ﷺ berhijrah ke Madinah, beliau sangat mencintai kota Makkah, tanah kelahiran beliau.

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

Artinya:

"Demi Allah, engkau (Makkah) adalah bumi Allah yang paling baik dan paling aku cintai. Seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu."

(HR. At-Tirmidzi)

Beberapa tahun setelah hijrah, Allah SWT memenuhi janji-Nya. Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah sebagai pemenang dalam peristiwa Fathu Makkah. Saat itu beliau tidak melakukan pembalasan kepada penduduk Makkah yang dahulu memusuhinya, bahkan memberikan jaminan keamanan kepada mereka.

Hijrah Maknawi: Menjadi Lebih Baik Setiap Hari

Hijrah yang paling relevan bagi umat Islam saat ini adalah hijrah maknawi.

Hakikat hijrah adalah perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Seorang Muslim tidak boleh merasa cukup dengan kondisi keagamaannya saat ini. Ia harus terus memperbaiki diri.

Karena itu, setiap pergantian tahun Hijriah seharusnya menjadi momentum untuk bertanya:

Apakah ibadah saya lebih baik daripada tahun lalu?

Apakah akhlak saya semakin baik?

Apakah hubungan saya dengan Allah semakin dekat?

Hijrah berarti terus bergerak menuju ridha Allah SWT.

Tajdīdul Īmān (Memperbarui Iman)

Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk memperbarui iman.

جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ

Artinya :

"Perbaruilah iman kalian."

Para sahabat bertanya:

وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

Artinya :

"Bagaimana kami memperbarui iman kami, wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab:

أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya :

"Perbanyaklah mengucapkan 'Lā ilāha illallāh'."

(HR. Ahmad)

Namun yang dimaksud bukan sekadar mengucapkannya dengan lisan, melainkan menghayati kandungannya.

Makna Lā Ilāha Illallāh

1. Seluruh ibadah harus murni karena Allah SWT.

2. Tidak ada tujuan yang lebih tinggi selain mencari ridha Allah SWT.

3. Allah SWT menjadi tujuan akhir seluruh perjalanan hidup manusia.

Konsistensi dalam Beribadah

Salah satu bentuk hijrah yang paling penting adalah menjaga konsistensi ibadah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya :

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Islam tidak membebani manusia di luar kemampuannya.

Firman Allah SWT

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Terjemahan :

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

(QS. Al-Baqarah: 286)

Kesimpulan

Allah SWT telah menunjukkan kepada manusia dua jalan: jalan kebenaran dan jalan kesesatan. Tugas manusia adalah memilih jalan yang mengantarkannya kepada Allah SWT.

Firman Allah SWT

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Terjemahan :

"Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur."

(QS. Al-Insān: 3)

Momentum Tahun Baru Hijriah hendaknya menjadi saat untuk melakukan hijrah maknawi, yaitu berpindah dari yang kurang baik menjadi lebih baik, memperbarui iman, memperbaiki niat, menjaga konsistensi ibadah, dan menjadikan ridha Allah SWT sebagai tujuan utama kehidupan.

Semoga setiap pergantian tahun Hijriah menjadikan kita pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT daripada tahun sebelumnya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.(*)

(Jum'at, 19 Juni 2026

Masjid Nurul Islam Bone)