Penanda Zaman

 


Oleh: Andi Muawiyah Ramly.  

(Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa)

SUKASULSEL.COM,Hari ini Rabu, 29 April 2026, Aku lihat tayangan poto beberapa orang  calon Ketua DPC PKB Sulsel. Mereka sedang berkumpul di Sekretariat DPW untuk mengikuti UKK tahap kedua. Sebagian mereka adalah incunbent seperti Sahabat Fahidin HDK dari Bulukumba, Umardin dari Bone dan Andi Fudail dari Parepare. Ada juga beberapa wajah baru kontestasi seperti Andi Adhar Bone,   Wawan Mattaliu dan Johansah Haruna dari Maros. 

Mereka adalah para kader pelanjut diriku agar PKB tetap eksis, tercatat dua bahkan tiga generasi di bawah jenjang kepengurusan di PKB, sejak awal partai ini aku dirikan bersama Kiai dan Pimpinan Pesantren di Jawa.

Aku sebagai generasi sepuh dan masih sebagai wakil ketua Dewan Syuro DPP,  mengamati perkembangan Partai yang pesat  di Sulawesi Selatan, mulai dari tidak punya wakil di Senayan, sebagai partai yang tidak dihitung, sampai sudah memiliki 2 orang Anggota DPR RI wakil representasi PKB, beberapa wakil ketua di Kabupaten  dan Provinsi yang pastinya merupakan sebuah kebanggaan, sekaligus menjadi tantangan besar untuk dipertahankan di masa depan.

Salah satu opsi agar PKB tetap menjadi pilihan masyarakat dan tetap hadir di belantara perpolitan, di tingkat Daerah dan Pusat, adalah PKB harus menjadi partai kader,  bukan gerombolan orang yang tidak punya pekerjaan, dan menjadikan PKB sebagai tempat pelarian menyandarkan hidupnya.

Partai ini, jangan sampai menjelma menjadi elitis, wakil-wakilnya yang terpilih kudu tetap menjadi ragi di masyarakat pemilihnya. Politik kehadiran pemberi solusi permaslahan yang dihadapi bangsanya, dan konsisten memperjuangkan keadilan.

Tentu aku berharap agar para kader calon pimpinan partai yang saat ini berkumpul  di Makassar, terpilih atau tidak terpilih, tetap konsisten untuk menghayati serta melaksanakan rujukan utama partai yang termuat dalam Mabda Siyasy. Sebuah platform yang aku buat 28 tahun lalu.  

Betapa cepatnya waktu berlalu. Sebuah zaman yang penuh perjuangan bersama para sepuh di NU. Semoga _batela_, footprint yang pernah aku goreskan tetap menjadi penanda,  bahwa aku telah melakukan sesuatu yang layak dikenang saat aku sudah berlalu. Bukan sekadar klaim historis sebagai mana banyak terjadi dalam organisasi Politik.(*)