*Oleh: Zainal (Penasehat BDDB)*
SUKASULSEL.COM, BONE--Angka 7 dalam perayaan ulang tahun sebuah komunitas sering kali hanya dianggap sebagai tonggak waktu. Namun bagi Berani Donor Darah Bone (BDDB), 7 tahun adalah bukti nyata bahwa semangat kemanusiaan tidak perlu menunggu mandat resmi untuk bergerak. Sejak lahir di tengah keterbatasan informasi dan infrastruktur pada 2019, BDDB telah menjelma menjadi nadi sukarela yang menghubungkan donor, PMI, rumah sakit, dan masyarakat Bone yang membutuhkan.
Jejak digital BDDB di media sosial, bukan sekadar arsip kegiatan, melainkan peta perjalanan kolektif. Dari unggahan pertama yang mengajak teman sejawat hingga dokumentasi ratusan kantong darah yang terkumpul dalam setiap aksi, grub WA, akun Instagram dan Facebook BDDB menyimpan narasi yang lebih jujur dari statistik resmi: bahwa donor darah bukan urusan teknis medis semata, melainkan soal keberanian memilih peduli ketika orang lain memilih diam. Pemberitaan di media lokal yang secara berkala mengangkat aksi BDDB menegaskan satu hal: komunitas ini telah berhasil menggeser paradigma donor dari “kewajiban administratif” menjadi “gerakan budaya partisipatif”.
Data yang terekam dalam liputan daring menunjukkan konsistensi yang mengesankan. Dalam tujuh tahun terakhir, BDDB tercatat membantu penyelamatan nyawa melalui koordinasi donor rutin, respons cepat saat stok darah kritis, dan pendampingan pendonor pemula. Kolaborasi dengan Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kabupaten Bone dan rumah sakit rujukan bukan lagi sekadar kemitraan teknis, melainkan ekosistem saling percaya. Jejak digital berupa foto para relawan yang mengantre melakukan transfusi, video edukasi yang tersebar di medsos, hingga grup WhatsApp yang aktif 24 jam membuktikan bahwa BDDB telah membangun “infrastruktur kemanusiaan” berbasis komunitas yang tangguh dan adaptif.
Tentu, perjalanan ini tidak lepas dari tantangan. Stigma seputar donor, keterbatasan logistik di wilayah pedalaman Bone, hingga kelelahan relawan menjadi ujian nyata. Namun, BDDB meresponsnya dengan cara yang khas: transparansi laporan kegiatan, edukasi berbasis bukti medis, dan regenerasi sukarela yang melibatkan generasi muda kampus dan SMA. Jejak digital mereka yang rutin membagikan testimoni penerima darah, infografis kesehatan, serta jadwal donor terjadwal menunjukkan strategi komunikasi yang matang di era disrupsi informasi. Komunitas ini memahami bahwa keberlanjutan bukan hanya soal jumlah kantong darah, tetapi juga kualitas literasi kesehatan dan ikatan emosional antaranggota.
Di ulang tahun yang ke-7, BDDB tidak perlu membuktikan dirinya layak dihargai. Bukti itu telah mengalir dalam setiap kantong darah yang menyelamatkan ibu melahirkan, anak dengan thalassemia, korban kecelakaan, hingga pasien kanker. Yang diperlukan kini adalah penguatan dukungan sistemik: kemudahan akses fasilitas donor, pengakuan non-materi bagi relawan, serta integrasi data komunitas dengan sistem informasi kesehatan daerah. Pemerintah, swasta, dan masyarakat dapat menjadi mitra yang memperluas jangkauan, bukan sekadar penonton yang bersorak saat ulang tahun tiba.
7 tahun BDDB adalah pengingat bahwa perubahan besar sering dimulai dari gerakan kecil yang konsisten. Darah mungkin hanya cairan merah dalam kantong plastik, tetapi di dalamnya mengalir keberanian, solidaritas, dan harapan yang tak pernah kering. *Selamat ulang tahun, BDDB.* Teruslah berani, karena setiap tetes yang kamu kumpulkan adalah napas bagi mereka yang masih memperjuangkan hidup.(*)
