SUKASULSEL.COM,---Perang segitiga Amerika dan koalisi abadinya Israel melawan Iran sudah berlangsung selama lebih 3 minggu saat Lontara Bilang ini ditulis. Kita hanya mendengar dan melihat berita serta tanyangan video sengkaruk perang modern itu lewat media nasional dan internasional.
Kita pun tidak pernah tahu kejadian yang sebenarnya pihak mana yang lebih unggul, kecuali fakta Ayatollah Imam Ali Khamanei dan beberapa jenderal Iran tewas dirudal oleh Amerika. Dan 2 hari berikutnya, almarhum sudah digantikan oleh Imam Mojtaba yang ditunjuk oleh Dewan Tertinggi Iran sebagai pengganti ayahandanya.
Pemberitaan media Barat dan pembuatan video yang disinyalir lebih banyak dimodivikasi dari AI, menjadi proksi tersendiri dalam perang yang penuh dengan strategi kebohongan ini. Kenapa demikian? Karena setelah Iran diembargo ekonomi dan politik selama 40 tahun, masih disinyalir sebagai negara teroris yang mengancam perdamaian dunia.
Sebaliknya Iran, sejak Ayatollah Imam Khomaeni selalu menyebut Amerika dan sekutunya sebagai _setan besar_ yang mengintervensi dan mencampuri urusan negara lain, bertindak sebagai imperialis yang bisa seenaknya mencamplok negara lain, mulai dari Iraq, Libya sampai Venezuela.
Lepas dari ideologi Iran sebagai Islam Syiah, namun menurut pendapat saya, Iran adalah refresentasi dari Negara Islam yang berani melawan adikuasa yang kebetulan mayoritas Kristen dan Yahudi. Dan pada titik ini, tidak salah kalau depertemen Peperangan Amerika yang diwakili oleh Pete Hegseth mengatakan bahwa "Musuh kita adalah Islam, baik Sunni maupun Syiah".
Dengan demikian kita menantikan kehadiran sosok anak muda lain, Salahuddin Al Ayyubi lain, jenderal Islam Kurdi, untuk mengulang kembali memimpin perang salib.
Aku tentu saja bukan ahlinya untuk memberikan analisis tentang perang, baik asimetris maupun perang konvensional, namun, pemberitaan yang massiv tentang perang saat ini membuat aku berpikir bahwa kalau terjadi ketimpangan persenjataan kedua belah pihak, jangan sampai pihak yang merasa terdesak akan menggunakan senjata nuklir. Pemusnah peradaban dan kemanusiaan. Itulah percepatan kiamat. Sebuah takdir yang direkayasa kehadirannya.
Rabu, 25 Maret 2026
Drs. H. Andi Muawiyah Ramly, M.Si.
(Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB)
