SUKASULSEL.COM,---Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali menegaskan bahwa energi adalah titik paling rapuh dalam sistem global. Dalam lanskap ini, Selat Hormuz menjadi jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Gangguan terhadap jalur ini akan langsung memicu lonjakan harga energi global dan berdampak sistemik, termasuk bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor BBM.
Namun di balik ancaman tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi domestik yang sangat besar, terutama dari sektor biomassa pertanian. Salah satu yang paling menjanjikan adalah limbah jerami padi sebagai bahan baku bioetanol.
Secara nasional, potensi jerami padi Indonesia sangat melimpah. Data dari Badan Pusat Statistik (diolah) dan berbagai kajian menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 55 juta ton jerami padi per tahun. Bahkan dalam beberapa estimasi berbasis produksi gabah nasional, potensi jerami dapat mencapai 70 hingga lebih dari 80 juta ton per tahun, tergantung luas panen dan intensitas tanam.
Dari sisi energi, potensi tersebut bukan angka kecil. Kajian dari lembaga riset seperti LIPI (sekarang BRIN) menunjukkan bahwa limbah jerami padi Indonesia memiliki potensi energi hingga sekitar 500–540 petajoule per tahun, jumlah yang secara teoritis mampu menyuplai kebutuhan energi jutaan rumah tangga.
Jika dikonversi ke bioetanol, dengan asumsi konservatif sekitar 200 liter per ton jerami, maka dari 50 juta ton saja Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar 10 miliar liter bioetanol per tahun. Angka ini jauh melampaui kebutuhan awal program pencampuran bioetanol (E10) yang diperkirakan berada di kisaran 1,4 juta kiloliter per tahun. Artinya, secara sumber daya, Indonesia tidak kekurangan bahan baku.
Paradoks pun muncul. Di satu sisi, Indonesia masih mengimpor BBM dan rentan terhadap konflik global. Di sisi lain, sumber energi alternatif tersedia dalam jumlah sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah jerami masih sering dibakar di lahan, menyebabkan polusi dan kehilangan nilai ekonomi.
Dari konteks nasional ini, implementasi di tingkat daerah bisa menjadi kunci. Sebagai contoh, Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan memiliki potensi yang dapat diterjemahkan secara konkret. Dengan kontribusi sektor pertanian mencapai 48,38 % terhadap PDRB (2024), Bone memiliki basis biomassa yang kuat. Secara hitungan kasar, dengan luas lahan pertanian sekitar 119.278 hektare dan produksi limbah sekitar 7 ton per hektare, Bone menghasilkan sekitar 1,66 juta ton limbah pertanian setiap tahun. Jika hanya 10 persen dimanfaatkan, tersedia 166 ribu ton bahan baku yang dapat menghasilkan sekitar 33,3 juta liter bioetanol per tahun dengan nilai ekonomi mencapai Rp334 miliar.
Sebuah potensi yang harusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat dan sektor swasta nasional. Apalagi Kabupaten Bone secara eksplisit disebut di RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2025-2029 sebagai kawasan strategis pengembangan Bioetanol.
Konflik di Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz seharusnya menjadi momentum refleksi bahwa Indonesia tidak bisa terus berada dalam posisi rentan akibat ketergantungan energi impor. Data menunjukkan bahwa sumber daya tersedia, teknologi sudah berkembang, dan kebutuhan pasar sangat besar.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah Indonesia siap bertransformasi?
Jika jawabannya ya, maka masa depan energi nasional tidak lagi ditentukan oleh Timur Tengah, tetapi oleh sejauh mana kita mampu mengolah potensi sendiri dari jutaan ton jerami padi yang selama ini terabaikan, hingga menjadi fondasi kedaulatan energi bangsa.
(Ir. Andi Hendra Setiawan, S.Pt., M.Si., IPM)
ASN Pemda Bone
